banner 728x250

Dr. Bambang Joni Karjono, SpPD, KGer, MARS, : Indonesia Perlu Mempersiapkan Diri Menghadapi Peningkatan Jumlah Penduduk Lanjut Usia (Lansia) Melalui Penguatan Kesadaran Masyarakat, Lingkungan yang Ramah Lansia, serta Pola Hidup Sehat sejak Usia Produktif.

banner 120x600
banner 468x60

Dr. Bambang Joni Karjono, SpPD, KGer, MARS, : Indonesia Perlu Mempersiapkan Diri Menghadapi Peningkatan Jumlah Penduduk Lanjut Usia (Lansia) Melalui Penguatan Kesadaran Masyarakat, Lingkungan yang Ramah Lansia, serta Pola Hidup Sehat sejak Usia Produktif.

 

banner 325x300

Jakarta, Centurypost.com

 

Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi peningkatan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) melalui penguatan kesadaran masyarakat, lingkungan yang ramah lansia, serta pola hidup sehat sejak usia produktif.

 

Hal tersebut disampaikan dr. Bambang Joni Karjono, SpPD, KGer, MARS, dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri dan anggota Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia, saat ditemui pada puncak peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 dalam acara Indonesia Active Ageing Summit 2026 di RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono.

Menurut Bambang, meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia merupakan pencapaian yang patut disyukuri. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan baru karena jumlah lansia akan terus bertambah setiap tahun.

“Semakin baik pelayanan kesehatan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat, maka usia harapan hidup juga semakin panjang. Konsekuensinya, jumlah lansia akan terus meningkat dan semua pihak harus siap menghadapinya,” ujarnya.

Sebagai dokter geriatri yang bertugas di RSUP Dr. Kariadi, Bambang menilai konsep active ageing atau penuaan aktif harus mulai menjadi budaya masyarakat. Lansia tidak hanya diharapkan berumur panjang, tetapi juga tetap sehat, mandiri, dan mampu menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa bergantung sepenuhnya kepada orang lain.

Menurutnya, salah satu faktor utama untuk menjaga kualitas hidup lansia adalah aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin. Aktivitas tersebut tidak harus berupa olahraga berat, melainkan dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sederhana yang melibatkan gerakan tubuh.

“Yang penting adalah tetap bergerak. Jalan kaki, berkebun, membersihkan rumah, berolahraga ringan, atau bermain bersama cucu semuanya bisa menjadi aktivitas yang bermanfaat bagi kesehatan lansia,” katanya.

Dalam pemaparannya, Bambang menjelaskan bahwa lansia dianjurkan melakukan aktivitas fisik setidaknya 150 menit dalam satu minggu. Aktivitas tersebut sebaiknya dilakukan secara teratur dan berkesinambungan agar manfaatnya lebih optimal bagi tubuh.

Selain aktivitas fisik, Bambang menyoroti pentingnya menjaga kesehatan tulang untuk mencegah osteoporosis yang sering dialami kelompok usia lanjut. Ia menyarankan masyarakat rutin berjemur di pagi hari untuk membantu pembentukan vitamin D serta melakukan aktivitas yang menopang berat badan seperti berjalan kaki.

“Berjemur dan aktivitas fisik yang sesuai kemampuan sangat membantu menjaga kekuatan tulang. Ditambah asupan nutrisi yang baik, risiko osteoporosis dapat ditekan,” ujarnya.

Bambang juga menekankan bahwa kesehatan lansia tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental dan sosial. Lansia yang tetap aktif berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

“Berpikir positif, menjaga hubungan sosial, dan tetap merasa memiliki peran di lingkungan sekitar sangat penting bagi kesehatan mental lansia,” katanya.

Ia menambahkan bahwa keluarga memiliki peran besar dalam mendukung lansia agar tetap aktif dan mandiri. Menurutnya, anggota keluarga perlu memberikan ruang bagi lansia untuk tetap berkegiatan sambil memastikan faktor keselamatan tetap terjaga.

Dalam kesempatan tersebut, Bambang mengingatkan bahwa penuaan adalah proses yang akan dialami setiap orang. Karena itu, persiapan menjadi lansia sebaiknya dimulai sejak usia produktif melalui pola hidup sehat, olahraga teratur, konsumsi makanan bergizi, dan menjaga kesehatan mental.

“Lansia bukan hanya kelompok yang harus dirawat, tetapi juga aset yang masih dapat memberikan kontribusi kepada keluarga dan masyarakat. Karena itu, kita perlu membangun lingkungan yang mendukung mereka untuk tetap aktif dan produktif,” ujarnya.

Melalui peringatan HLUN ke-30 dan Indonesia Active Ageing Summit 2026, Bambang berharap kesadaran masyarakat terhadap isu penuaan sehat semakin meningkat sehingga Indonesia mampu menghadapi era masyarakat menua dengan lebih siap dan berkualitas.

“Menjadi lansia adalah masa depan kita semua. Persiapan yang dilakukan hari ini akan menentukan bagaimana kualitas hidup kita di masa tua nanti,” pungkasnya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *